Dan Brown : Inferno Resensi

Leave a comment

March 29, 2014 by evo3cx

549086m-dan-brown-inferni
Penulis : Dan Brown
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 642 halaman
Harga : Rp 149.000 (Hard Cover)
Tahun Terbit : 2013

Dan Brown!
Yeah, saya memebeli buku ini karena ada nama Dan Brown terpampang disana. Mengingat dua buku Dan Brown sebelumnya The Da vinci Code dan The Lost Symbol yang telah berhasil memikat hati saya, maka kemudian Saya memutuskan untuk membeli Inferno. Well, saya langsung jatuh cinta pada cover-nya yang lebih artistik dan lebih menarik dibanding cover buku-buku Dan Brown yang lain. Terpampang potret Dante Alighieri yang menghadap ke kanan, dengan latar belakang kota kuno Florence.

Konsep yang digunakan Dan Brown dalam penulisan Inferno, tidak jauh berbeda dari buku-buku sebelumnya. Langdon yang tiba-tiba harus diminta untuk memecahkan kasus, ditemani seorang wanita dalam pemecahan kasusnya, dikejar-kejar pihak berwenang karena dianggap telah bersekongkol dengan musuh, dan durasi novel yang disetting selama 24 jam. Semua hal tersebut seakan sudah menjadi kerangka wajib bagi Brown dalam penulisan novel-novelnya, Yang entah mengapa hal ini membuat saya sedikit bosan.

Inferno, menceritakan tentang Langdon yang tiba-tiba berada di salah satu rumah sakit di Florence, Italia. Dengan luka tembak di kepalanya, yang membuat Langdon tidak dapat mengingat seluruh kejadian yang dialaminya dalam dua hari terakhir. Langdon semakin bertambah bingung, karena tiba-tiba dia dikejar-kejar oleh seorang wanita berambut duri yang berniat membunuhnya. Ditambah lagi, ia juga diburu oleh segerombolan tentara, yang semakin membuat Langdon bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi dalam dua terakhir dalam hidupnya ini???

Pembaca akan disuguhkan ketegangan dari awal dalam Inferno. Biasanya, kisah Robert Langdon akan dimulai dengan aktivitas Langdon yang sedang menyeduh kopi Sumatera lalu mendapat panggilan misterius, atau Langdon yang baru bangun tidur di rumahnya yang kemudian juga mendapat panggilan atau fax misterius yang meminta bantuannya. Namun di buku ini, kita akan mendapati seorang Robert Langdon yang sedang terbaring di sebuah kamar rumah sakit, kemudian berhadapan dengan seorang dokter yang tidak bisa berbahasa Inggris dan kepala yang sakit sekali..

Ingatan terakhirnya, dia baru saja mengajar di Harvard.. di sebuah tempat yang tentu saja semua orang mahir berbahasa Inggris. Lalu dimanakah dia sekarang? Dan pertanyaan ini langsung terjawab begitu dia mengarahkan pandangannya pada jendela kamarnya itu adalah Bassilica di Santa Maria dan itu tandanya dia sedang berada di kota Firenze Italy
Keterkejutannya tentang dimana dia sekarang sedang berada, tidak berlangsung lama. Seorang wanita dengan tubuh berbalut pakaian hitam dan rambut jabriknya, memaksa masuk untuk menemuinya. Dan apa yang dilakukan wanita itu kemudian mencengangkannya. Dia mengarahkan pistolnya pada dokter yg tidak mahir berbahasa Inggris itu karena menghalangi jalannya, dan boooom.. dokter tersebut terkapar tak berdaya.

Bersama dengan Sienna Brooks, dokter wanita jenius yang mengidap semacam depresi sejak kecil, Langdon berusaha memecahkan pesan tersembunyi dibalik topeng kematian Dante Alighieri, sang penyair terkenal pada Abad Pertengahan. Dante sendiri adalah orang yang menyusun Divine Comedy, sebuah puisi epik 14.233 baris yang menggambarkan Dante turun ke dunia bawah, aliasa neraka (Inferno) dan perjalanan Dante melewati penebusan (Purgatorio), sampai akhirnya ia sampai ke surga (Paradiso).

Dibalik topeng tersebut, menandakan sebuah lokasi penyebaran wabah yang diciptakan oleh seorang ahli biologi gila demi mengendalikan populasi dunia, bernama Zobrist. Zobrist berpendapat, dengan kemampuan reproduksi manusia saat ini akan sangat membahayakan kelangsungan hidup manusia selama satu abad ke depan. Dimana dengan overpopulasi yang terjadi, manusia akan semakin banyak membutuhkan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan pokok lainnya. Sehingga ia menciptakan wabah dengan niat untuk mengendalikan populasi dunia. Untuk mencegah agar spesies manusia dapat bertahan lebih lama, untuk melindungi manusia dari kepunahan.

Saya melihat kebenaran yang ada dalam Inferno, dimana overpopulasi memang menjadi masalah yang sangat serius dalam kehidupan kita. Dimana kebutuhan akan bahan pokok semakin meningkat, namun sumber daya alam yang tersedia semakin menipis. Hal itu memang memicu tindak kriminal dan huru-hara yang sering terjadi di masyarakat. Memang jumlah penduduk amat sangat sulit dikendalikan, apalagi di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan India. Keadaan tersebut mungkin yang ingin digambarkan Brown sebagai kiamat. Namun jika saat itu akhirnya tiba, biarlah semuanya terjadi dengan alami tanpa campur tangan manusia. Tanpa melakukan bunuh diri secara massal, dan tentunya tanpa menciptakan senjata biologis berbahaya.

Saya sedikit kecewa dengan novel Dan Brown yang satu ini. Karena di bab-bab terakhir, semua cerita yang diapaparkan seakan telalu mengada-ada, terlalu terencana, dan terlalu kebetulan, sehingga kehilangan kesan greget-nya. Semua petualangan dan kejadian mengerikan yang dialami Langdon seakan langsung menguap ketika saya membaca bab 82. Semua kisah yang menurut saya “jauh dari mengejutkan”, terkesan hambar dan janggal, dipaparkan mulai bab 82, sampai halaman-halaman setelahnya. Mungkin Brown berusaha menciptakan momen yang unpredictable, tapi malah membuat ceritanya menjadi terkesan “lebay”.

Mungkin Brown juga berusaha menghilangkan salah satu ciri khas dalam novelnya : musuh sebenarnya adalah orang yang tak disangka-sangka. Seperti dalam da vinci code, dimana musuhnya adalah teman-nya sendiri, seorang profesor kaya raya alumni Oxford yang ternyata adalah Guru yang disebut-sebut oleh tokoh antagonis. Dan Mal’akh yang ternyata adalah Zachari dalam novel The Lost Symbol. Pemeran antagonis dalam Inferno telah meninggal. Digantikan oleh sebuah bayang-bayang mengerikan mengenai wabah yang akan menyerang sepertiga populasi dunia. Dan oleh kekasih Zobrist yang berusaha mewujudkan hal itu terjadi.

Dan Brown juga sepertinya kurang memahami apa arti mimbar bagi orang Muslim. Ia mengatakan bahwa mimbar adalah tempat imam untuk memimpin shalat Jum’at. Namun sebenarnya mimbar adalah tempat untuk khatib yang menyampaikan khutbah Jum’at, dan khutbah hari raya. Memang seorang khatib bisa juga merangkap menjadi imam yang memimpin shalat Jum’at. Namun yang umum terlihat dalam masyarakat, khatib dan imam merupakan orang yang berbeda.

Identitas dan kepribadian Sienna semakin menjadi tidak jelas. Dia memerankan tokoh yang bergerak dalam wilayah abu-abu. Terombang-ambing antara baik dan buruk. Meskipun di akhir cerita dijelaskan mengenai peranannya dan keberpihakannya, namun karakter Sienna Brooks tetap saja merupakan tokoh yang tidak jelas kedudukannya menurut saya. Dapat dilihat pada perbuatannya kepada Vayentha, ketika mereka berada di Florence. Hal itu merupakan tindakan fatal Sienna. Untuk apa dia sampai hati melakukan hal itu? Kalau memang tujuan sebenarnya sama dengan Langdon? Yaitu menemukan dan memusnahkan bibit wabah yang mengancam dunia. Lalu mengapa pula ia dengan cepat berubah pikiran, dan bersedia membantu Langdon dan dr.Sinkey?

Kalau boleh jujur, Inferno merupakan novel Dan Brown “terjelek” yang pernah saya baca. Namun meskipun begitu, Dan Brown tetap menyuguhkan informasi dan cerita-cerita sejarah seputar peradaban pertengahan di Itali. Apalagi pembaca akan diajak menikmati karya seni arsitekur yang megah dan indah di Florence, Venesia, dan Istanbul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Gunadarma Logo

Categories

About Me

Reza Aditya Saputra 3ka07

visitor stats


%d bloggers like this: